{"id":23,"date":"2026-06-04T17:58:10","date_gmt":"2026-06-04T15:58:10","guid":{"rendered":"https:\/\/thediary.media\/id\/2026\/06\/04\/apakah-obat-asma-dapat-memicu-gangguan-autisme\/"},"modified":"2026-06-04T17:59:26","modified_gmt":"2026-06-04T15:59:26","slug":"apakah-obat-asma-dapat-memicu-gangguan-autisme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/thediary.media\/id\/2026\/06\/04\/apakah-obat-asma-dapat-memicu-gangguan-autisme\/","title":{"rendered":"Apakah obat asma dapat memicu gangguan autisme?"},"content":{"rendered":"<h1>Apakah obat asma dapat memicu gangguan autisme?<\/h1>\n<p>Gangguan spektrum autisme memengaruhi sekitar 1% anak di seluruh dunia, dan prevalensinya terus meningkat. Meskipun faktor genetik menjelaskan kurang dari setengah kasus, penyebab lingkungan masih belum sepenuhnya dipahami. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa obat asma yang banyak diresepkan, montelukast, mungkin memainkan peran yang tidak terduga dalam munculnya perilaku autisme.<\/p>\n<p>Montelukast bekerja dengan menghambat reseptor tertentu yang terlibat dalam reaksi inflamasi. Namun, para peneliti menemukan bahwa obat ini juga mengganggu sinyal asam retinoat dalam neuron. Asam retinoat, yang berasal dari vitamin A, sangat penting untuk perkembangan otak, pembentukan sinapsis, dan regulasi proses biologis kunci seperti neurogenesis. Kekurangan atau gangguan sinyal ini telah dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan neuroperkembangan.<\/p>\n<p>Eksperimen yang dilakukan pada tikus menunjukkan bahwa paparan montelukast selama kehamilan atau segera setelah kelahiran menyebabkan perilaku yang mirip dengan autisme. Hewan yang terpapar menghabiskan lebih sedikit waktu untuk berinteraksi dengan sesama yang tidak dikenal dan menunjukkan perilaku berulang yang meningkat, seperti perawatan diri yang berlebihan. Efek ini dapat dikurangi dengan penambahan asam retinoat, yang mengonfirmasi hubungan antara gangguan jalur ini dan gejala yang diamati.<\/p>\n<p>Untuk memahami mekanisme yang terlibat, para ilmuwan mempelajari mini-otak manusia yang dikembangkan di laboratorium dari sel punca. Organoid ini, yang terpapar montelukast, menunjukkan kelainan dalam perkembangannya. Ukurannya mengecil, dan ekspresi banyak gen yang terkait dengan sinyal asam retinoat berubah. Selain itu, obat ini tampaknya mendorong perkembangan daerah ventral otak dengan mengorbankan daerah dorsal, sehingga mengganggu keseimbangan antara neuron eksitatori dan inhibitor. Ketidakseimbangan ini sering ditemukan pada gangguan spektrum autisme.<\/p>\n<p>Para peneliti juga menunjukkan bahwa montelukast mengikat langsung reseptor asam retinoat, sehingga menghambat fungsinya secara normal. Dengan menghambat reseptor ini, obat tersebut mengganggu pembentukan kompleks protein yang esensial untuk regulasi ekspresi gen. Interaksi ini menjelaskan mengapa penggunaannya dapat memiliki konsekuensi yang tidak terduga pada perkembangan otak.<\/p>\n<p>Survei yang dilakukan terhadap kelompok besar anak-anak Tiongkok juga mengungkapkan bahwa mereka yang mengonsumsi montelukast sebelum usia tiga tahun memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan gangguan spektrum autisme. Data menunjukkan peningkatan risiko sebesar 37% dibandingkan dengan anak-anak yang tidak terpapar. Meskipun asosiasi ini sendiri tidak membuktikan hubungan kausalitas, hal ini memperkuat hipotesa bahwa montelukast dapat berkontribusi pada munculnya gangguan ini pada beberapa anak.<\/p>\n<p>Temuan ini menyoroti pentingnya mengevaluasi ulang keamanan obat-obatan yang umum diresepkan, terutama pada anak-anak yang otaknya sedang berkembang. Hal ini juga mengingatkan bahwa efek samping dari beberapa pengobatan dapat melampaui target awalnya dan memengaruhi sistem biologis yang tidak langsung terkait dengan indikasi utamanya.<\/p>\n<hr>\n<h2>Bibliographie<\/h2>\n<h3>Source de l&#8217;\u00e9tude<\/h3>\n<p><strong>DOI :<\/strong> <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1038\/s41392-026-02665-w\" target=\"_blank\">https:\/\/doi.org\/10.1038\/s41392-026-02665-w<\/a><\/p>\n<p><strong>Titre :<\/strong> Anti-asthma drug montelukast induces autistic behaviors via disrupting neuronal retinoic acid signaling<\/p>\n<p><strong>Revue :<\/strong> Signal Transduction and Targeted Therapy<\/p>\n<p><strong>\u00c9diteur :<\/strong> Springer Science and Business Media LLC<\/p>\n<p><strong>Auteurs :<\/strong> Zi-Jian Hao; Qiong-Hui Wu; Ya-Li Li; Zhen-Ming Guo; Zheng-Wei Li; Gui Wang; Meng Meng; Shi-Lin Yuan; Yilimire Wufuer; Meng-Huan Zhang; Jie Chen; Ting Yang; Meng-Xia Chen; Jiang Zhu; Wang Qi-Hang; Qiu Li; Shi-Hu Yu; Min Lu; Hai-Yi Xiong; Yu-Ru Feng; Meng-Qi Dong; Jun-Hao Xu; Jia-Lin Xu; Li Chen; Han-Ting Yang; Jing-Kun Miao; Hong Zhu; Bo Yang; Hui-Ying Zhao; Xiao-Ming Shi; Shan Bian; Ting-Yu Li; Rong-Gui Hu<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apakah obat asma dapat memicu gangguan autisme? Gangguan spektrum autisme memengaruhi sekitar 1% anak di seluruh dunia, dan prevalensinya terus meningkat. Meskipun faktor genetik menjelaskan kurang dari setengah kasus, penyebab lingkungan masih belum sepenuhnya dipahami. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa obat asma yang banyak diresepkan, montelukast, mungkin memainkan peran yang tidak terduga dalam munculnya perilaku&hellip; <a class=\"more-link\" href=\"https:\/\/thediary.media\/id\/2026\/06\/04\/apakah-obat-asma-dapat-memicu-gangguan-autisme\/\">Lanjutkan membaca <span class=\"screen-reader-text\">Apakah obat asma dapat memicu gangguan autisme?<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5,7,6],"tags":[],"class_list":["post-23","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-internasional","category-investigasi","category-masyarakat","entry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/thediary.media\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/thediary.media\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/thediary.media\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/thediary.media\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/thediary.media\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/thediary.media\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":24,"href":"https:\/\/thediary.media\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23\/revisions\/24"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/thediary.media\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/thediary.media\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/thediary.media\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}